SOLO ELOK

SOLO ELOK
SSuasana kota Solo

Selasa, 25 Mei 2010

DUNIA HITAM ......

Lama menetap di Solo yang elok, saya lambat laun mengetahui secuil rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota Solo. Kota yang terkenal ramah, kota pendidikan, kota santri dan kota budaya ini ternyata menyimpan banyak kenangan.

"Dunia gemerlap" alias dugem bertaburan bak jamur dimusim hujan, Pabrik Ciu alias minuman keras kerlas rumah tangga adajuga, praktek praktek prostitusi baik yang terang-terangan maupun terselubung marak juga.

Padahal pusat-pusat pembinaan umat semisal pesantren pun tak kalah menjamurnya. Saya melihat, semuanya berjalan sendiri-sendiri menentukan jalan hidupnya masing-masing. Meskipun kadang-kadang saya melihat ada ormas yang getol memerangi penyakit masyarakat (pekat).
Tetapi terkadang juga seolah seperti acuh tak acuh akan semua ini.

Dulu, di kota Solo ini ada lokalisasi pelacuran yang cukup besar yaitu di daerah Silir alias daerah pasar manuk (manuke sopo?) utawa pasar pitik dan lain-lain sebagainya (kambing "bendot" juga ada). Pokoke pasar kewan utawa timurnya pasar besi. Tapi sekarang sudha di tutup oleh pemkot setempat. Meskipun (sssstttstttt.....menurut penglihatan saya masih ada juga yang main kucing-kucingan).

Entah, pada lari kemana pelacur-pelacur itu?mungkin pindah atau pulang kampung.

Dasar wong Ndesooo....udik & gak gaul, saya pernah"tersesat" di lokalisasi Silir tersebut. La piye....gak ngerti tenan. Critane ngene:" Pas anyar-anyaran tinggal di Solo, saya berinisiatif untuk main pit-pitan (sepeda pancal0 mider deso mbangun projo (dudu ding!) mider desa mencari pengalaman. Dari Daerah perbatikan Kauman saya menjelajah, Kampung Laweyan, Kampung arab pasar Kliwon, Pasar Klewer dan lain sebagainya.

Singkat cerita! Suuuer.....saya kok masuk pasar Silir. Padahal saya tidak tahu kalau disitu ada kompleks Pelacuran. Tahunya malah saat muter-muter gang ngapalke jalur. LA kok ada yang ngamperke......

"Monggo Mas! Pinarak mriki, tasih enggal lho.... Cuma 25.000,- service ok punya. BLaaaikkkk..... mak jengggirat, saya kaget setengah mati. Lalu keluarlah sesosok wanita dengan dandanan menor dan mencolok (kira-kira umur 20 tahun). Biyuuuuh-biyuuuuuh......Pakaiannya super ketat dan srawang-srawang.

Dengan malu-malu saya memberanikan diri bertanya," mbak, ini kampung apa to?" Mbaknya yang sedari tadi mesam-mesem balik bertanya. Lo.... mase ini gak tahu apa pura-pura gak tahu???

"Suerrrr...mbak kulo pendatang.OOO....Pendatang to? Kalo gitu monggo mampir dulu nanti saya kasih tahu didalam. " Cuma murah lo mass.......!!! nanti saya service paling OK.

Baru setelah saya keluar dari lokalisasi (tapi gak jajan lho..) dan tanya tukang becak disitu....saya baru tahu ternyata itu adalah daerah Silir. Heeee...opo Silir?????? Blaiiikkkk.......tersesat tenen aku iki.......Gusti paringono kuat imane....!!!!

Sejak saat itu, saya "seolah" dirundung Kenapa mereka penasaran dengan mereka para pelacur itu....................

USia mereka macam-macam, ada yang masih gadis ABG, ada juga yang sudah STW. Bahkan sata lihat nenek "bau tanah" juga masih saja jual diri di Situ.

Ngeri juga, syukur sekarang sudah di tutup. Kalo belum bagaimana nasib generasi muda yang ada dilokalisasi itu.........

Sekarang kayaknya, bekas lokalisasi itu di pakai buat pusat rehabilitasi mental dan public service oleh pemkot.

4 komentar: